Journal

Bulan Seni di Bali

“Bulan Oktober tuh kaya Galungannya industri kreatif di Bali. Semua pada produktif, semua bikin pameran.”

Kutipan curhat singkat dari seseorang yang baru saya kenal pas saya lagi berkunjung ke Karja Art Space untuk menghadiri diskusi singkat dan melihat pameran. Ya gimana nggak. Dari Ubud sampai Nusa Dua, opening pameran dimana-mana. Which actually buat saya sih seneng-seneng aja karena banyak yang bisa dilihat dan jadi ada kegiatan. Tapi yang bikin bingung adalah, waktunya kepepet buat saya karena harus membagi waktu antara bekerja dan berkunjung. Tapi kayanya sah sah aja ya kalau saya share kunjungan saya ke salah tiga pameran yang lagi running di bulan Oktober ini di berbagai penjuru Bali.

Denpasar 2018
Cushcush Gallery, Denpasar

IMG_7438.JPG

Pameran yang ini tuh buat saya sendiri wajib dimampirin simply karena saya merupakan shortlisted artist tahun lalu :P. Tahun ini so far temanya lebih lebar sih ya menurut saya: jingga. Kan kaya bikin orang mikir aja gitu, “jingga”. Tapi, eksekusi 12 shortlisted artists tahun ini menarik dan lumayan bervariasi, ya. Cuma untuk saya pribadi, karyanya Kevin Aditya sama I Gusti Ngurah Bagus Brahmantia (Gung Wah) lumayan mencuri perhatian.

Melihat yang Tak Terlihat
Bentara Budaya Bali, Gianyar

IMG_8261.JPG

Saya tuh kenal Mas Pepeng karena sempet waktu itu kerja bareng sama dia beberapa kali. Mas Pepeng ini adalah still photographer untuk berbagai film-film Indonesia seperti Sekala Niskala, Athirah & Ada Apa Dengan Cinta? 2. Nah pameran ini tuh adalah pameran foto-foto behind the scene film Sekala Niskala. Yang bikin tambah menarik di pameran ini tuh ada performance arts pas openingnya. Ada Ayu Laksmi main alat musik tradisional, digabung sama 2 penari cilik yang lentur banget mengeksplorasi ruangan pameran.

Masa Subur
Karja Art Space, Ubud

IMG_8310.JPG

Pameran yang diinisiasi oleh Futuwonder ini tuh latar belakangnya menurut saya cukup kuat, yaitu memberi kesempatan seniman seniman wanita untuk memamerkan karya mereka. Ini menarik banget sih karena di industri seni Bali memang didominasi oleh seniman laki-laki. Terus tiba-tiba Futuwonder terbentuk dan either invited & shortlisted artistsnya wanita semua. Plus, ketika masih dalam proses open call, Futuwonder juga memberi kesempatan seniman transpuan untuk mengirim submission.

DailyReevo Saulus